
Biasanya...
Setiap pagi ku buru-buru bangun, kaget melihat jam, terasa tidur baru sekejap, serasa blm puas mata ini menikmati indahnya mimpi, ku lihat suami masih terlelap, masih terlihat gurat-gurat kelelahan diwajahnya. Dengan sedikit tergesa-gesa ku ambil handuk dan bergegas ke kamar mandi, brrr....dinginnya air pagi ini serasa membekukan seluruh sendi-sendi ditubuh ini. Segera setelah selesai mandi, aku bangunkan suamiku, dan tanpa keluhan, suamiku beranjak kekamar mandi secepatnya bersiap untuk kami berangkat ke kantor, sambil berbenah, kulihat kedua buah hati kami, masih terlelap, masih dipenuhi dengan mimpi-mimpi indah mereka, mungkin sekarang mereka sedang bermimpi, merindukan hal-hal kecil yang dulu waktu kecil bisa kudapatkan dengan mudah, mimpi ditemani sang bunda, sehingga mereka bisa lebih merasa terlindungi dan merasa bahwa ada yang menjaga mereka. mungkin mimpi mereka sepele bagi beberapa orang, dan sebenarnya tidak terlalu banyak harapan yg mereka inginkan. Huffff...kenapa aku begitu tega meninggalkan mereka selama ini, 9 Tahun lebih lamanya kujalani pekerjaan ini dan 5 tahun sudah kujalani hari-hari dimana setiap pagi harus tega meninggalkan mereka walaupun tangisan mengiringi setiap langkahku. Kenapa baru sekarang kusadari bahwa senyuman mereka setiap tau aku tidak akan berangkat kekantor selalu menghias bibir-bibir mungil mereka, dan bagaimana setiap aku berada di rumah, suamiku terlihat begitu bersemangat seolah hilang seluruh kelelahan yang dialaminya hari itu, ternyata itu indah, melebihi apapun, tak bisa tergantikan oleh apapun. Terima kasih ya Allah engkau berikan aku kesadaran untuk menyadari hal itu. Walaupun bagi sebagian orang menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kemunduran, tetapi tetap bagiku itu sebuah kemajuan, aku tidak terpengaruh oleh pandangan modern dari sebagian wanita modern, aku tetap aku, aku tetap lebih menghargai ibu yang mendidik dan mengasuh anak-anaknya.Berat sekali memang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yg selama ini seperti sudah menjadi darah dan daging buatku, kesibukan dikantor yg menghabiskan hampir dari seluruh waktuku. Mungkin kalau dihitung dengan jam, lebih banyak waktu yang kuhabiskan dengan teman-teman kantor dibandingkan waktu yang kuhabiskan dengan anak dan suamiku, sampai untuk ngobrol dengan suami pun hanya kita habiskan di perjalanan pada saat berangkat dan pulang kerja saja, itu pun kalau jam pulang dan perginya sama...aku sering bertanya, apa ini yang aku inginkan selama ini??? , semua kebahagian yang aku dapatkan malah semua terasa semu, ada kekosongan di jiwa ini. Bukan berarti aku tidak bahagia dengan teman-teman sendiri, tetapi ada bagian lain dari diriku yang mengharapkan kehadiran ku di setiap tahap perjalanan hidup mereka.
Dan sebenarnya bukan hanya waktu dikantor yg menghabiskan banyak dari waktuku, tapi perjalanan yang bisa menghabiskan sampai 2-3 jam dalam 1 kali perjalanan, berarti dalam sehari aku bisa menghabiskan 4-6 jam hanya diperjalanan, banyak yang bertanya kepadaku, kenapa tidak mencari rumah didekat kantor saja, oh NO!!! Aku tidak mau menghabiskan semua waktuku untuk tinggal di jakarta, kehidupan Metropolitan dimana kepedulian terasa semakin sedikit, sikap egois semakin tinggi karena persaingan yang semakin tinggi. aku tidak suka dengan kesumpekan kota jakarta, aku tetap ingin mengirup udara segar dipagi hari, bisa mencium bau tanah sesaat setelah hujan, tetap ingin merasakan dinginnya udara pagi. Walaupun bogor tidak sesejuk dulu, tapi tetap bogor jauh lebih baik dari pada jakarta. Lucu ya, Padahal aku bukan orang bogor, tetapi 14 tahun sudah kuhabiskan waktuku tinggal di kota bogor
1 hari lagi, besok tanggal 13 juli 2011 hari terakhir aku kerja, wah perasaanku bercampur aduk, terbayang waktu pertama aku mengajukan surat pengunduran diri, sedih, senang, terasa plong, dengan berlinang air mata kuserahkan surat itu kepada deputi GM dikantorku, tetapi ada kebahagian lain yang menunggu aku, terbayang wajah-wajah mungil yang tersenyum menggoda, minta untuk di manja, terbayang senyum mengembang dari suamiku pada saat dia tau aku yakin dengan pilihanku, semoga pilihan aku tidak salah, mudah-mudahan suamiku bisa menjadi pegangan buatku di dunia dan akhirat nanti, bisa membimbing aku ke arah yang lebih baik lagi dari saat ini.
Terima Kasih METROTV, karena sudah memberikan kesempatan kepadaku selama 9 Tahun belajar di Perusahaan ini, Terima Kasih teman-teman di METROTV karena sudah membuat indah sebagian dari perjalanan hidupku. Hidup itu pilihan, dan semoga pilihan ini pun tepat sehingga jangan ada penyesalan suatu saat nanti
