Jumat, 04 September 2009

Letusan Gunung Tambora Terbesar Sepanjang Sejarah

Seiring dengan terjadinya gempa yang melanda pulau jawa pada tanggal 2 september 2009 pada jam 14:55 yang berpusat di Tasik Malaya. saya tergelitik untuk mencari tentang gempa-gempa besar yang pernah dialami di Indonesia. Berikut petikan nya dari beberapa sumber yang saya dapat

GUNUNG Tambora dengan ketinggian hanya 2.851 mdpl (meter di atas permukaan laut) mampu memikat hati para pendaki dengan pesona alamnya yang sangat unik. Lebar kawah Gunung Tambora tujuh kilometer, keliling kawah 16 kilometer, dan kedalaman kawah dari puncak sampai dasar kawah kedalaman 800 meter, sehingga kawah Gunung Tambora terkenal dengan The Greatest Crater in Indonesia (Kawah Terbesar di Indonesia) akibat dari adanya letusan terdahsyat di dunia terkenal dengan The Largest Volcanic Eruption in History. Selain itu keindahan Gunung Tambora lainnya adalah padang pasir luas di sepanjang bibir kawah yang ditumbuhi bunga Edelweiss kerdil sekitar 0,5 meter sampai 1,5 meter dengan jarak masing-masing berjauhan sekitar dua meter sampai 100 meter. Juga adanya keindahan batuan-batuan berlapis dan pada bagian atasnya datar seperti meja menjadikan fenomena alam yang menakjubkan. Ada pula lapisan batuan sepanjang tebing kawah yang berlapis-lapis.



Letusan Gunung Tambora, di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), 11 April 1815 dinilai sebagai letusan gunung terbesar dan paling menghancurkan dalam sejarah umat manusia. "Letusan Gunung Tambora merupakan letusan paling dasyat di dunia, menyebabkan setengah populasi penduduk Sumbawa atau sekitar 92.000 jiwa tewas," kata peneliti gunung api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen ESDM Igan Sutawijaya dalam seminar Jelang 2 abad letusan Tambora di LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (22/4/2006). Akibat letusan ini, volume material yang dimuntahkan 3 kali lebih banyak dari letusan Krakatau. Hujan abu ini sejauh 1.300 Km, dengan dentuman dari kawah terdengar hingga jarak 2.600 Km. Semburan abu dari letusan Gunung Tambora menutupi permukaan bumi sehingga membuat wilayah utara bumi mengalami penurunan suhu sampai beberapa tahun tanpa musim panas. Selain itu, aliran lava yang menuju laut mengakibatkan tsunami dengan tinggi gelombang 4 meter. Aliran lava dan debu ini menyebar di area 874 Km persegi dengan ketebalan 7 meter. Lava dan debu ini menghanguskan apa pun yang dilewatinya, termasuk manusia, pohon dan buah-buahan. Suhu awan panas mencapai 1.000 derajat Celsiuc sehingga menghanguskan apapun yang ditemuinya


Para ilmuwan AS telah menemukan kota Pompeii baru di salah satu pulau di Indonesia. Kota itu selama ini terkubur abu akibat letusan gunung berapi paling dahsyat, Gunung Tambora. Kalangan sains yakin bahwa kota yang mereka temukan itu merupakan peninggalan terakhir sebuah peradaban yang terkubur oleh letusan hebat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 1815 silam. Pompeii sendiri merupakan nama kota Romawi di dekat Naples, Italia yang disapu oleh Gunung Vesuvius yang meletus pada tahun 79. Gunung itu mengubur kota tersebut di bawah timbunan abu raksasa dan lenyap selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali secara tidak disengaja. Sejak itu, hasil penggalian memberikan detail gambaran menakjubkan atas kota Pompeii yang berdiri semasa Kerajaan Romawi itu. Kini, Pompeii merupakan salah satu tujuan wisata ternama di Itali dan dinobatkan sebagai Lokasi Warisan Dunia UNESCO. Satu tim dari Indonesia dan AS telah menggali sisa-sisa sebuah rumah jerami di lokasi meletusnya Tambora. Diyakini bahwa temuan ini cuma sudut kecil dari keseluruhan kota yang dulu dihuni sekitar 10 ribu orang dan terkubur di bawah abu. "Ada kemungkinan bahwa Tambora menjadi Pompeii di timur dan ini bisa menjadi kepentingan budaya yang besar," ujar Profesor Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island, AS, yang memimpin proses penggalian. "Semua orang, rumah dan kebudayaan mereka masih ditampilkan di sana seperti layaknya tahun 1815 lampau," imbuhnya seperti diberitakan media Inggris, The Independent, Rabu (1/3/2006). Letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 merupakan yang terbesar sepanjang zaman modern. Ini empat kali lebih dahsyat daripada muntahan Gunung Krakatau pada 1883. Suara letusannya begitu kuat sampai terdengar hingga jarak 1.700 mil. Guncangannya dirasakan oleh orang-orang yang jaraknya sekitar 1.000 mil dari Tambora. Letusannya mendatangkan asap tebal yang bergulung-gulung jauh ke atas. Abu beterbangan hingga 800 mil jauhnya. Lebih dari 10 ribu orang tewas seketika akibat lahar, batu dan abu panas yang disemburkan Gunung Tambora. Beberapa minggu kemudian, sekitar 117 ribu orang lainnya meninggal akibat penyakit serta gagal panen di ladang-ladang yang dipenuhi abu. Peradaban Tambora pun mati. Namun akhirnya kota yang hilang itu ditemukan oleh Profesor Sigurdsson dan rekan-rekannya pada tahun 2004 setelah mengikuti seorang pemandu tur yang mengatakan, warga setempat telah menemukan peninggalan kuno di daerah itu. Dari hasil penggalian ditemukan sisa-sisa perunggu, tembikar dan kaca. Letusan Gunung Tambora mengundang perhatian besar karena terkait dengan masalah perubahan iklim. Gunung itu mengeluarkan begitu banyak debu ke atmosfir sehingga menyebabkan "pendinginan global" sampai-sampai tahun 1816 dikenal sebagai "tahun tanpa musim semi" atau "mati membeku". Bahkan di negara bagian Maine, panen terus digagalkan oleh cuaca dingin pada Juni, Juli dan Agustus 1816. Secara global, temperatur turun 1 derajat Celcius


Tidak ada komentar: